ASAL NAMA KETAPANG


Bagian II (dua)

Sejarah social masyarakat suatu wilayah adalah penting sebagai identitas “jati diri” untuk kebanggaan bersama agar hidup lebih bermakna. Masyarakat Ketapang saat ini mempunyai “gambaran cirri-ciri” etnis yang mencerminkan sejarah penghunian dan budaya nya serta tingkat keterlibatannya dalam system kemasyarakatan dan bernegara. Oleh karena itu budayanya harus diperhitungkan sesuai dengan apa yang telah dicapainya.

Pencapaian budaya ini merupakan hal yang wujud dalam interaksi masyarakat Ketapang yang saat ini menjadi heterogen. Oleh karenanya adalah wajar kita sebagai bagian dari masyarakat suatu wilayah yang menjadi Ketapang ini, ingin mengetahui fakta historisnya, termasuk bagaimana asal usul wilayah ini menjadi Ketapang.

Wilayah ini sebelumnya pernah menjadi pusat Kerajaan Tanjungpura, kemudian menjadi kesultanan Matan dari tahun 1550 – 1948 dan setelah kemerdekaan RI wilayah ini menjadi nama Ketapang.

Pemilihan letak da nama suatu wilayah pada masa kerjaanya di dasarkan pada keputusan pemimpin (raja dan pemuka agama), unsure-unsur kosmos, tanda-tanda binatang dan tumbuhan dan menurut petuah-petuah orang tua atau pemuka agama. Contoh dari keputusan pemimpin adalah seperti dilakukan Raja Tanjungpura, Pangeran Giri Kusuma, Raja ini mengubah namanya dari Sorgi menjadi Giri Kusuma setelah memeluk islam pada tahun 1590, kemudian mengubah nama kerajaannya menjadi Kesultanan Matan. Kata “Matan” diambil dari bahasa Arab yang bearti Tanah Air yang penuh rahmat dan keselamatan.

Perubahan nama kota Matan menjadi Ketapang berasal dari nama kampong Ketapang yang terletak di pinggiran sungai Ketapang kecil (sekarang wilayah Kel. Kauman, Kel. Tengah da Desa Sampit) oleh Pemerintah RI. Pada tahun 1816, peneliti Belanda, G. Muller menaksir kampong Ketapang di huni sekitar 1000 orang, terdiri dari orang Melayu, China, Bugis (Veth, 1854).

Secara biologis, Ketapang merupakan tumbuhan berkayu yang hidup di ekosistem pesisir pantai. Pohon ketapang (Terminalia Catappa) banyak tanaman peneduh, karena memiliki bentuk tajuk yang lebar. Pemilihan nama wilayah yang mengambil jenis nama tumbuhan bentuk penyatuan dan penghormatan diri dengan lingkungan alam sekitarnya.

Penanaman wilayah geografis ini sebagai “Kabupaten Ketapang” sebenarnya menyalahi fakta historisnya dan tidak sesuai dengan warisan budaya sebagai proses terbantuknya budaya tata nilai masyarakat wilayah ini sampai pada aras kekinian. Penanaman suatu wilayah masyarakat bukan soal kepastian sejarah melainkan adalah kewajaran sejarah penghuni wilayah ini. Seharusnya wilayah geografis Kabupaten Ketapang diberi nama sesuai dengan fakta historisnya, yaitu Kabupaten Tanjungpura, Kabupaten Matan atau Matan Tanjung Pura sebagaimana nama-nama diwilayah di tempat lain, seperti Palembang (dulu Kesultanan Palembang), Kediri ( dulu Kerajaan Kediri), Sambas ( Kerjaan Sambas), Pontianak (Kerajaan Pontianak) dan lainnya.

catatan dari : Gusti Kamboja (budayawan)

Tulisan selanjutnya (bagian III): Ketapang semasa kolonialisme (tunggu ya….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: