KETAPANG SEMASA KOLONILISME


Bagian III

Kehadiran orang-orang Belanda di Ketapang diketahui sejak tahun 1610, ketika mereka memperebutkan Pulau Karimata dengan Ratu Matn di Sukadana. Graaf (2002) mengatakan bahwa, sebuah surat dair Gresik tertanggal 26 Mei 1610 (K.A No 695) menjelaskan bahwa Ratu Sukadana dalam peselisihan dengan orang Belanda mengenai pulau Karimata mengirim utusan ke Surabaya untuk mengadu. Pada saat itu Kerajaan matan Tanjungpura merupakan daerah taklukan Surabaya.

Kemudian sewaktu serangan Mataram pada tahun 1621 -1622 ke Kerajaan Matan Tanjungpura di Sukadana, telah berdiri Loji (Kantor Dangang) Belanda. Kepentingan Belanda ke wilayah Kerajaan Matan Tanjungpura waktu itu adalah hasil tambang Intan yang di perebutkan antara orang Belanda dan Mataram sewaktu serangan armada Mataram pada tahun 1622 di Sukadana. Loji orang belanda ikut hancur, tetapi mereka telah menyembunyikan Intan-intan itu di dalam tanah (Kamboha 2006)

Pada tahun 1621, Raja Mataram Sulatan Agung memerintahkan, sebelum menyerang Kerjaan Surabaya terlebih dahulu harus menyerang daerah taklukan Surabaya, yaitu Kerajaan Matan Tanjungpura di Sukadana. Menurut Coen dalam Bescheinden pada bulan Desember 1621, muncul armada orang Mataram di laut Sukadana yang dipimpin penguasa Kendal dengan 700 Kapal dan 200 prajurit hendak menyerbu tiba-tiba. Serangan pertama ini dapat di patahkan prajurit Matan, mereka kembali tanpa berbuat sesuatu.

Kemudian usaha itu diulang. Pada tanggal 6 Mei 1622 muncul lagi di depan kota Sukadana armada Mataram yang terdiri dari 100 kapal dengan 2000 prajurit dan menyerang Sukadana pada malam hari. Menurut saksi mata yang di laporkan Coen dalam Bescheiden, sebenarnya prajurit Matan Sukadana pada serangan itu menghalangkan orang Mataram secara telak dengan sumpit panah beracun melawan orang Mataram yang menggunakan keris dan tombak. Da;am pertempuran tersebut sebagaimana di saksikan orang belanda, De Haen, yang di laporkan oleh Jonge dalam Opkomst, yang mengatakan bahwa kerugian di pihak Mataram adalah sebanyak 300 orang tewas, 400 orang luka berat karena panah tiap hari 2-4 orang tewas karena racun panah. Namun prajurit Matan Tanjungpura yang di pimpin Kiai Adipati untuk mempertahankan kota kerajaan, melarikan diri karena mengira prajurit Mataram dapat menguasai kota Kerajaan secara telak. Orang Mataram baru mengetahui kota telah kosang dam kemudian kota dapat di duduki.

Ratu Sukadana yang sudah tua bersama 800-900 orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, di tahan oleh orang Mataram dana di bawa ke Mataram beserta harta dan Intan hasil rampasannya. Ratu kemudian di pindahkan ke desa Pinggit, dijaga orang Kendal. Setelah bulan puasa (Agustus 1622) ia dikembalikan ke Sukadana. Kemudian ia di perkuat oleh pertemuan De Haen dengan seorang pria Matan, yang meminta bantuan kepadanya pada hari itu juga aka pergi ke Kandal untuk kembali lagi ke Sukadana.

Terhadap keberhasilan dalam penaklukan dalam kerajaan Matan Tanjungpura di Sukadana, terhadapat Tumenggung Baureksa dari Kandal, diberikan hadiah salah satu istrinya oleh Sultan Agungsebagai penghargaan.

Ekspansi Belanda ke wilayah Kerajaan Matan terus berlanjut. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jamaluddin, pada tahun 1822 daang komisi Belanda yang di pimpin oleh C. Muller untuk menduduki kota Sukadana dan Pulau Karimata. Dalam rombongan Belanda ini ikut juga Tengku Akil, cucu Raja Yahya dari sultan Siak yang bermaksud menggantikan Sultan Muhammad Jamuluddin. Atas bantuan Belanda, Tengku Akil dapat menduduki dan memerintah Sukadana bergelar Raja Akil Dipertuansyah (1827). Sultan Muhammad Jamaluddin akhirnya mundur ke Sungai Kayung, Nanga Tayap dan wafat pada tahun 1830 di Martalaya, di makamkan di desa Tanjungpura.

Kerajaan Matan, akhirnya menurut Yamin (1956), dapat ditaklukan Belanda pada tahun 1824. Semenjak itu di Kerajaan Matan terjadi konflik yang diciptakan oleh Belandadan membagi kerajaan menjadi 3 bagian yaitu : Simpang, Sandai dan Martapura. Raja-raja kerajaan tersebut harus dapat bekerjasama dengan Belanda. Pada tahun 1895 saudara adik kandung Sultan Matan, Pangeran Muda Ulama di penjarakan Belanda di Pontianak karena fitnah dan menolak aturan yang dibuat oleh pemerintahan Belanda. Keluarga raja-raja di Tumbang Titi bersama rakyanya melakukan perlawanan. Peristiwa ini di sebut juga dengan Pernag Tumbang Titi yang di pimpin oleh Uti Usman alias Uti Unggal bersama Uti Makhud, Daeng Uti, dan Tentemak. Di pihak Belanda di pimpin oleh Fredrik Hendrik Alexander Brans. Dalam peristiwa ini kedua belah pihak gugur dalam perperangan.

Semasa penduduk Jepang terjadi penangkapan dan pembunuhan terhadap keluarga Raja-raj Matan dan puncak keganasan Jepang terjadi pada 18 Juli 1943. Raja Matan Gusti Muhammad Saunan bersama Raja-raja lainnya dan tokoh-tokoh masyarakat di Kalimantan Barat di bunuholeh Jepang dalam peristiwa yang disebut Penyungkupan di Mandor.

Daerah Ketapang pada masa colonial Belanda termasuk bagian dari Residentie Wester Afdeling van Borneo denga ibukota Pontianak. Pada tanggal 8 September terlihat adanya pembagian wilayah termasuk Ketapang terjadi pembagian secara admistratif daerah Waster Afdeling van Borneo menjadi daerah Kalimantan Barat dalam 6 daerah Kabupaten yakni : 1). Pontianak, 2). Ketapang, 3). Sambas, 4). Sintang, 5). Sanggau dan 6). Kapuas Hulu.

Catatan dari  Gusti kamboja

Bersambung…tunggu aja

One Response

  1. Salam..bisa di terangkan Siapa org tua Tengku Akil dari Siak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: